JANGAN TAMPIL BEDA, Bermazhablah dengan mazhab yang dianut mayoritas kaum muslimin di negerimu
Kisah Al-Qadhi Abu Ya'la Al Hanbali ( w. 458 H) rahimahullah sebagaimana disebutkan dalam Al Musawwadah fi Ushul Fiqih ;
ูุงู ุงููุฒูุฑ ุฃุจู ุงูู ุธูุฑ ูุญูู ุจู ู ุญู ุฏ ุจู ูุจูุฑุฉ: ุญูู ูู ุงูุดูุฎ ู ุญู ุฏ ุจู ูุญูู ุนู ุงููุงุถู ุฃุจู ูุนูู ุฃูู ูุตุฏู ูููู ูููุฑุฃ ุนููู ู ุฐูุจ ุฃุญู ุฏ ูุณุฃูู ุนู ุจูุฏู ูุฃุฎุจุฑู ููุงู ูู ุฅู ุฃูู ุจูุฏู ูููู ููุฑุฃูู ู ุฐูุจ ุงูุดุงูุนู ููู ุงุฐุง ุนุฏูุช ุฃูุช ุนูู ุฅูู ู ุฐูุจูุง ููุงู ูู ุฅูู ุง ุนุฏูุช ุนู ุงูู ุฐูุจ ุฑุบุจุฉ ููู ุฃูุช ููุงู ุงู ูุฐุง ูุง ูุตูุญ ูุงูู ุฅุฐุง ููุช ูู ุจูุฏู ุนูู ู ุฐูุจ ุฃุญู ุฏ ูุจุงูู ุฃูู ุงูุจูุฏ ุนูู ู ุฐูุจ ุงูุดุงูุนู ูู ุชุฌุฏ ุฃุญุฏุง ูุนุจุฏ ู ุนู ููุง ูุฏุงุฑุณู ูููุช ุฎูููุง ุฃู ุชุซูุฑ ุฎุตูู ุฉ ูุชููุน ูุฒุงุนุง ุจู ูููู ุนูู ู ุฐูุจ ุงูุดุงูุนู ุญูุซ ุฃูู ุจูุฏู ุนูู ู ุฐูุจู ุฃููู ูุฏูู ุนูู ุงูุดูุฎ ุฃุจู ุฅุณุญุงู.
(ุงูู ุณูุฏุฉ ูู ุฃุตูู ุงูููู ูุงุจู ุชูู ูุฉ ุต ูฅูคูก)
Berkata al-Wazir Ibnu Hubairah (w 560 H):
Syekh Muhammad bin Yahya menceritakan kisah al-Qadhi Abu Ya’la al-Hanbali (w 458 H), bahwasannya beliau didatangi seorang ahli fiqh untuk belajar madzhab Hanbali, maka al-Qodhi bertanya tentang asal negri ahli fiqh ini, setelah dijawab al-Qodhi berkata:
"Sesungguhnya penduduk negrimu semuanya bermadzhab Syafi’i, lalu mengapa engkau berpaling pada madzhab Hanbali ?
Dia menjawab: "sesungguhnya aku berpaling ke madzhabmu karena aku mengagumimu".
Al-Qodhi berkata: "sikapmu ini tidaklah pantas, karena apabila kamu kembali ke negrimu dengan madzhab Hanbali sedangkan penduduk negrimu bermadzhab Syafi’i, kamu tak akan sama dengan mereka dalam teknis Ibadah, orang-orang juga tidak akan belajar kepadamu dan kamu akan menciptakan bibit permusuhan dan menimbulkan pertikaian.
Justru yang lebih utama bagimu adalah tetap bermadzhab syafi’I sebagaimana penduduk negrimu".
Kemudian al-Qodhi membawa ahli fiqh ini menemui Abu Ishaq as-Syairozi as-Syafi’i dan belajar (fiqh Syafi'i) padanya (al-Musawwadah Fii Ushul al-Fiqh Halaman 541)
Semoga kita lebih semangat lagi untuk belajar fiqh mazhab Syafi'i. Amin ya Rabb.
(Faidah dari Ust. Muhammad Salim Kholili via Abdullah Al-Jirani)
Baca juga kajian ulama tentang mazhab berikut :
- Bermazhab : Masih Relevan kah?
- Mazhab Ahli Hadis
- Benarkah Azan di Indonesia Tidak Mengikut Mazhab Imam Syafi’i?
- Cara Bersedekap dalam Salat Menurut Empat Mazhab
- Kenapa Darurat Bermazhab?
Sumber FB Ustadz : Abdullah Al Jirani
