Mempelajari Ilmu Syari'at dan Hakikat Melalui Ngaji Kitab Kepada Guru

Mempelajari Ilmu Syari'at dan Hakikat Melalui Ngaji Kitab Kepada Guru

Ilmu di dalam Islam sudah digariskan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam melalui jalur guru- murid yang terus tersambung hingga Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Hal ini berdasarkan hadis:

يَرِثُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ

"Ilmu Islam ini akan diwarisi oleh orang-orang yang terpercaya dari setiap generasi Islam"

يَنْفَوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ

“Mereka akan membersihkan dari penyimpangan makna oleh para ekstrimis, pengagamaan oleh orang-orang yang membatalkan ajaran Islam (seperti para orientalis), dan penyimpangan harfiyah atau maknawiyah oleh orang-orang bodoh” (HR Baihaqi)

Di hadis lain kita diperintah agar selektif mencari guru:

الْعِلْمُ دِيْنٌ وَالصَّلَاةُ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ هَذَا الْعِلْمَ وَكَيْفَ تُصَلُّوْنَ هَذِهِ الصَّلَاةَ فَإِنَّكُمْ تُسْأَلُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ 

Hadis: “Ilmu adalah agama, salat adalah agama. Maka perhatikan kepada siapa kalian belajar ilmu. Bagaimana kalian salat? Sebab kalian akan ditanya di hari kiamat” (HR al-Dailami dari Ibnu Umar)

Standar Ilmu Islam sama seperti ilmu lainnya, ada gurunya, ada kurikulumnya, ada jenjangnya dan seterusnya. Misalnya ilmu kedokteran, seorang mahasiswa kedokteran tidak mungkin langsung menjadi dokter spesialis kecuali melewati tahapan S1 kedokteran dan menjadi Dokter Muda. Demikian pula ilmu kesarjanaan yang lain.

Ilmu Islam tidak bisa didalami dengan otodidak. Hasil berpikir sendiri. Hasil olah batin. Tidak ada. Sama seperti ilmu kedokteran tidak mungkin diraih dengan otodidak, tanpa sekolah di jurusan kedokteran. Andaikan ada seseorang yang mengaku ahli bedah tapi tidak pernah mendapat keahlian spesialis ilmu bedah, saya tidak akan mau jadi pasiennya. Sebab nanti akan jadi kelinci percobaan. Ilmu Islam juga begitu. Dari mana dia belajar Akidah, mendalami Fikih dan berproses Ilmu Tasawuf. Kalau tidak jelas, saya akan mencari ulama yang sudah kredibel ilmunya.

Imam di bidang Tasawuf, Al-Junaid, berkata:

ﻋﻠﻤﻨﺎ ﻣﻀﺒﻮﻁ ﺑﺎﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭاﻟﺴﻨﺔ، ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺤﻔﻆ اﻟﻜﺘﺎﺏ، ﻭﻳﻜﺘﺐ اﻟﺤﺪﻳﺚ، ﻭﻟﻢ ﻳﺘﻔﻘﻪ، ﻻ ﻳﻘﺘﺪﻯ ﺑﻪ.

"Ilmu kami (Tasawuf) berlandaskan Qur'an dan Sunnah. Barang siapa yang tidak menghafal Al-Qur'an, tidak mencatat hadis dan tidak mempelajari Fikih maka tidak boleh dijadikan panutan" (Tarikh Al-Islam, 4/492)

Tapi guru kami bisa begini, bisa begitu (memiliki kemampuan di luar nalar manusia). Fenomena seperti ini sudah terjadi sejak lama. Hal ini bukan menjadi standar keilmuan dan kewalian seseorang. Ada riwayat dari ulama Shufi:

ﻭﻗﻴﻞ ﻷﺑﻲ ﻳﺰﻳﺪ: ﻓﻼﻥ ﻳﻤﺸﻲ ﻓﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺇﻟﻰ ﻣﻜﺔ. ﻓﻘﺎﻝ: اﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻳﻤﺸﻲ ﻓﻲ ﺳﺎﻋﺔ ﻣﻦ اﻟﻤﺸﺮﻕ ﺇﻟﻰ اﻟﻤﻐﺮﺏ ﻓﻲ ﻟﻌﻨﺔ اﻟﻠﻪ. ﻭﻗﻴﻞ ﻟﻪ: ﻓﻼﻥ ﻳﻤﺸﻲ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺎء ﻭﻳﻄﻴﺮ ﻓﻲ اﻟﻬﻮاء ﻓﻘﺎﻝ اﻟﻄﻴﺮ: ﻳﻄﻴﺮ ﻓﻲ اﻟﻬﻮاء ﻭاﻟﺴﻤﻚ ﻳﻤﺮ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺎء.

Abu Yazid Al Busthami pernah ditanya bahwa "Fulan bisa pergi ke Makkah dalam satu malam". Abu Yazid menjawab: "Setan saja bisa dari timur ke barat dalam waktu singkat padahal ia dilaknat Allah". Ada lagi bahwa Fulan bisa terbang di udara. Abu Yazid menjawab: "Burung juga terbang di udara". Ada juga bahwa Fulan mampu berjalan di atas air. Abu Yazid menjawab: "Ikan berjalan di air" (Risalah Qusyairiyah 533)

Jadi, hal-hal aneh bukan tolok ukur kewalian atau seseorang mencapai maqam makrifat. Terlebih membahas hal-hal yang dilarang yakni berkaitan dengan Allah yang akhirnya dipenuhi dengan khayalan yang aneh-aneh, padahal Allah maha suci dari apa yang mereka bayangkan, seperti punya tongkat, rambut berwarna putih dan sebagainya. Sebagaimana dalam hadis yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali:

ﺧﺮﺝ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﻡ ﺫاﺕ ﻳﻮﻡ ﻭﻫﻢ ﻳﺘﻔﻜﺮﻭﻥ ﻓﻘﺎﻝ «ﻣﺎ ﻟﻜﻢ ﻻ ﺗﺘﻜﻠﻤﻮﻥ؟» ﻓﻘﺎﻟﻮا: ﻧﺘﻔﻜﺮ ﻓﻲ ﺧﻠﻖ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻗﺎﻝ «ﻓﻜﺬﻟﻚ ﻓﺎﻓﻌﻠﻮا، ﺗﻔﻜﺮﻭا ﻓﻲ ﺧﻠﻘﻪ ﻭﻻ ﺗﻔﻜﺮﻭا ﻓﻴﻪ»

Nabi mendatangi satu kaum yang sedang berpikir, kemudian nabi bersabda "Mengapa kalian tidak berbicara?" Mereka menjawab "Kami berpikir tentang makhluk Allah". Nabi bersabda "Ya betul, seperti itulah yang kalian lakukan. Memikirkan tentang makhluk Allah dan jangan memikirkan tentang Allah"

ﺭﻭﻳﻨﺎﻩ ﻓﻲ ﺟﺰء ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺳﻼﻡ

Al-Hafidz Al Iraqi berkata: "Kami menerima hadis ini dalam sebuah kitab dari hadis Abdullah bin Salam"

• Alhamdulillah kami di pesantren mempelajari ilmu Tasawuf melalui jalur Imam Al-Ghazali, mulai dari karya tingkat awal, menengah hingga yang paling tinggi. Juga dilengkapi dengan Al-Hikam, Tanwirul Qulub, Risalah Qusyairiyah dan sebagainya.

​Sumber FB Ustadz : Ma'ruf Khozin

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Mempelajari Ilmu Syari'at dan Hakikat Melalui Ngaji Kitab Kepada Guru". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.
#ilmu #tasawuf