Makmum Memperpanjang Sujud Terakhir Sampai Imam Hampir Salam

Makmum Memperpanjang Sujud Terakhir Sampai Imam Hampir Salam

Ada hadits yang menganjurkan untuk memperbanyak doa ketika sujud. Nabi ๏ทบ bersabda:

ุฃَู‚ْุฑَุจُ ู…َุง ูŠَูƒُูˆู†ُ ุงู„ْุนَุจْุฏُ ู…ِู†ْ ุฑَุจِّู‡ِ ูˆَู‡ُูˆَ ุณَุงุฌِุฏٌ، ูَุฃَูƒْุซِุฑُูˆุง ุงู„ุฏُّุนَุงุกَ

“Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud. Karena itu, perbanyaklah doa.” (Sahih Muslim) 

Akan tetapi, ketika seseorang menjadi makmum, ada tuntunan lain yang juga harus diperhatikan. Nabi ๏ทบ bersabda:

ุฅِู†َّู…َุง ุฌُุนِู„َ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ُ ู„ِูŠُุคْุชَู…َّ ุจِู‡ِ

“Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti.” (Sahih Muslim). 

Sekilas, kedua hadits ini bisa tampak seperti bertentangan. Hadits pertama menganjurkan memperbanyak doa dalam sujud, sedangkan hadits kedua memerintahkan makmum mengikuti imam. Padahal, keduanya tidak bertentangan. Hadits tentang memperbanyak doa dalam sujud harus dipahami dengan tetap memperhatikan kewajiban makmum untuk mengikuti imam.

Imam Syafi‘i dalam al-Umm memberikan batas yang sangat jelas. Beliau berkata:

ูˆَูŠَุฌْุชَู‡ِุฏُ ูِูŠ ุงู„ุฏُّุนَุงุกِ ูِูŠู‡ِ ุฑَุฌَุงุกَ ุงู„ْุฅِุฌَุงุจَุฉِ، ู…َุง ู„َู…ْ ูŠَูƒُู†ْ ุฅِู…َุงู…ًุง ูَูŠُุซْู‚ِู„ُ ุนَู„َู‰ ู…َู†ْ ุฎَู„ْูَู‡ُ، ุฃَูˆْ ู…َุฃْู…ُูˆู…ًุง ูَูŠُุฎَุงู„ِูُ ุฅِู…َุงู…َู‡ُ، ูˆَูŠَุจْู„ُุบُ ู…ِู†ْ ู‡َุฐَุง ุฅِู…َุงู…ًุง ู…َุง ู„َู…ْ ูŠَูƒُู†ْ ุซِู‚ْู„ًุง، ูˆَู…َุฃْู…ُูˆู…ًุง ู…َุง ู„َู…ْ ูŠُุฎَุงู„ِูْ ุงู„ْุฅِู…َุงู…َ.

“Hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam berdoa di dalam sujud dengan mengharapkan terkabulnya doa, selama ia bukan imam yang memberatkan orang di belakangnya, atau seorang makmum yang dengan itu menyelisihi imamnya. Seorang imam hendaknya memperpanjangnya selama tidak memberatkan, sedangkan seorang makmum memperpanjangnya selama tidak menyelisihi imam.” (Al-Umm Imam Syafi'i) 

Dari sini jelas bahwa makmum tetap dianjurkan berdoa dalam sujud, tetapi tidak boleh memperpanjangnya dengan cara yang menyebabkan dirinya menyelisihi imam.

Hal ini semakin jelas dalam pembahasan ulama Syafi‘iyyah mengenai mutaba‘ah atau kewajiban mengikuti imam. Imam Syarwani berkata:

ูˆَุจِุฎِู„َุงูِ ู…َุง ู„َูˆْ ุชَุฎَู„َّูَ ู„ِุฅِุทَุงู„َุฉِ ุงู„ุณُّุฌُูˆุฏِ؛ ู„ِุฃَู†َّ ุฅِุทَุงู„َุชَู‡ُ ุจَุนْุฏَ ุฑَูْุนِ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ِ ุนَู†ْู‡ُ ุบَูŠْุฑُ ู…َุทْู„ُูˆุจٍ.

“Berbeda halnya apabila ia tertinggal karena memperlama sujud, karena memperlama sujud setelah imam mengangkat kepala darinya bukanlah sesuatu yang dianjurkan.” (Hasyiyah Syarwani). 

Dengan demikian, apabila imam sudah mengangkat kepala dari sujud, makmum tidak sepatutnya tetap mempertahankan sujudnya hanya karena ingin memperpanjang doa. Ia seharusnya mengikuti imam.

Bahkan Imam Nawawi menyebut secara khusus bahwa memperlama tasbih dalam rukuk dan sujud termasuk bentuk keterlambatan dari imam tanpa uzur:

ูˆَู…ِู†َ ุงู„ุชَّุฎَู„ُّูِ ุจِู„َุง ุนُุฐْุฑٍ ุฃَู†ْ ูŠَุฑْูƒَุนَ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ُ ูَูŠَุดْุชَุบِู„َ ุงู„ْู…َุฃْู…ُูˆู…ُ ุจِุฅِุชْู…َุงู…ِ ู‚ِุฑَุงุกَุฉِ ุงู„ุณُّูˆุฑَุฉِ، ู‚َุงู„ُูˆุง: ูˆَูƒَุฐَุง ู„َูˆِ ุงุดْุชَุบَู„َ ุจِุฅِุทَุงู„َุฉِ ุชَุณْุจِูŠุญِ ุงู„ุฑُّูƒُูˆุนِ ูˆَุงู„ุณُّุฌُูˆุฏِ.

“Termasuk keterlambatan dari imam tanpa uzur adalah ketika imam rukuk, sedangkan makmum sibuk menyelesaikan bacaan surah. Para ulama berkata: demikian pula apabila ia sibuk memperpanjang bacaan tasbih dalam rukuk dan sujud.” (Al-Majmu').

Jadi, bukan hanya keterlambatan karena melakukan sesuatu yang mubah. Bahkan memperpanjang dzikir yang pada asalnya merupakan kesunahan di posisi itu pun tidak boleh menyebabkan makmum tertinggal dari imam.

Lalu, bagaimana jika makmum sujud sangat lama bahkan sampai imam hampir salam?

Dalam madzhab Syafi‘i terdapat perincian. Tidak setiap keterlambatan langsung menyebabkan shalat batal.

Jika makmum sengaja tertinggal satu rukun fi'li (rukun berupa gerakan) secara sempurna dari imam, menurut pendapat yang lebih sahih, salatnya tidak batal, tetapi hukumnya makruh. Ada pendapat lain yang menyatakan shalatnya batal.

 Sayyid Bakri ad-Dimyathi menjelaskan:

(ู‚ูˆู„ู‡: ุจุฎู„ุงู ุงู„ุชุฎู„ู ุจู‡) ุฃูŠ ุจุชู…ุงู… ุฑูƒู†.

 (ูˆู‚ูˆู„ู‡: ูุฅู†ู‡ ู…ูƒุฑูˆู‡) ุฃูŠ ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุตุญ.

 ูˆู…ู‚ุงุจู„ู‡ ุฃู†ู‡ุง ุชุจุทู„ ุจุงู„ุชุฎู„ู ุจุฑูƒู† ุฃูŠุถุง.

 ูˆุนุจุงุฑุฉ ุงู„ู…ู†ู‡ุงุฌ ู…ุน ุดุฑุญ ู… ุฑ: ูˆุฅู† ุชุฎู„ู ุจุฑูƒู†، ุจุฃู† ูุฑุบ ุงู„ุฅู…ุงู… ู…ู†ู‡ ูˆุงู„ู…ุฃู…ูˆู… ููŠู…ุง ู‚ุจู„ู‡، ู„ู… ุชุจุทู„ ููŠ ุงู„ุฃุตุญ.

 ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ ุชุจุทู„، ู„ู…ุง ููŠู‡ ู…ู† ุงู„ู…ุฎุงู„ูุฉ ู…ู† ุบูŠุฑ ุนุฐุฑ.

“Yang dimaksud dengan tertinggal darinya adalah tertinggal satu rukun secara sempurna. Adapun perkataan ‘hukumnya makruh’, maksudnya menurut pendapat yang lebih sahih. Pendapat yang berseberangan menyatakan bahwa shalat batal dengan tertinggal satu rukun juga. Redaksi al-Minhฤj beserta syarahnya: ‘Jika makmum tertinggal satu rukun, yaitu imam telah selesai dari rukun tersebut sedangkan makmum masih berada pada rukun sebelumnya, maka menurut pendapat yang lebih sahih shalatnya tidak batal.’ Pendapat kedua menyatakan batal, karena terdapat penyelisihan terhadap imam tanpa uzur.” (I'anatut Thalibin). 

Adapun jika makmum sengaja tertinggal dua rukun fi‘li secara sempurna, maka hukumnya lebih berat. Ia berdosa dan shalatnya batal.

Dalam Nihayatuz Zain disebutkan:

ูˆَุนَุฏَู…ُ ุชَุฎَู„ُّูٍ ุนَู†ْ ุฅِู…َุงู…ٍ ุจِุฑُูƒْู†َูŠْู†ِ ูِุนْู„ِูŠَّูŠْู†ِ ุชَุงู…َّูŠْู†ِ، ูˆَุฅِู†ْ ู„َู…ْ ูŠَูƒُูˆู†َุง ุทَูˆِูŠู„َูŠْู†ِ، ุจِู„َุง ุนُุฐْุฑٍ ู…َุนَ ุชَุนَู…ُّุฏٍ ูˆَุนِู„ْู…ٍ ุจِุงู„ْู…َู†ْุนِ ... ูَุฅِู†ْ ุฎَุงู„َูَ ูِูŠ ุงู„ุณَّุจْู‚ِ ุฃَูˆِ ุงู„ุชَّุฎَู„ُّูِ ุจِู‡ِู…َุง ู„ِุบَูŠْุฑِ ุนُุฐْุฑٍ ุจَุทَู„َุชْ ุตَู„َุงุชُู‡ُ ู„ِูَุญْุดِ ุงู„ْู…ُุฎَุงู„َูَุฉِ ุจِู„َุง ุนُุฐْุฑٍ.

“[Makmum wajib] tidak tertinggal dari imam dengan dua rukun fi‘li yang sempurna, meskipun keduanya bukan rukun yang panjang, tanpa uzur, dalam keadaan sengaja dan mengetahui larangan tersebut. Jika ia menyelisihi imam dengan mendahului atau tertinggal dua rukun tersebut tanpa uzur, maka shalatnya batal karena penyelisihannya sudah sangat jauh tanpa uzur.” (Nihayatuz Zain). 

Karena itu, dalam Busyrol Karim dijelaskan:

ูˆَุงู„ْุญَุงุตِู„ُ: ุฃَู†َّ ุงู„ุชَّู‚َุฏُّู…َ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุจِุฑُูƒْู†َูŠْู†ِ ูِุนْู„ِูŠَّูŠْู†ِ ุญَุฑَุงู…ٌ ูˆَู…ُุจْุทِู„ٌ، ูƒَุงู„ุชَّุฃَุฎُّุฑِ ุจِู‡ِู…َุง ู„ِุบَูŠْุฑِ ุนُุฐْุฑٍ، ูˆَุจِุฑُูƒْู†ٍ ุญَุฑَุงู…ٌ، ูˆَู„َุง ูŠُุจْุทِู„ُ، ูˆَูƒَุฐَุง ุจِุจَุนْุถِู‡ِ ุนِู†ْุฏَ (ู… ุฑ)، ูˆَุจِู…ُุฌَุฑَّุฏِ ุญَุฑَูƒَุฉِ ุงู„ْู‡ُูˆِูŠِّ ู…َูƒْุฑُูˆู‡ٌ ูƒَุงู„ุชَّุฃَุฎُّุฑِ ุจِุฑُูƒْู†ٍ ุชَุงู…ٍّ.

“Kesimpulannya, mendahului imam dengan dua rukun fi‘li hukumnya haram dan membatalkan shalat, demikian pula tertinggal dua rukun fi‘li tanpa uzur. Adapun mendahului satu rukun fi‘li hukumnya haram tetapi tidak membatalkan shalat. Demikian pula mendahului sebagian rukun menurut pendapat al-Ramli. Adapun sekadar bersamaan ketika mulai bergerak turun maka hukumnya makruh, sebagaimana tertinggal satu rukun secara sempurna hukumnya juga makruh.” (Busyrol Karim). 

Adapun gambaran tertinggal satu rukun dan dua rukun dijelaskan:

ูَุงู„ุชَّุฎَู„ُّูُ ุจِุฑُูƒْู†َูŠْู†ِ ู‡ُูˆَ ุฃَู†ْ ูŠَุชِู…َّ ู„ِู„ْุฅِู…َุงู…ِ ุฑُูƒْู†َุงู†ِ ูˆَุงู„ْู…َุฃْู…ُูˆู…ُ ุจَุนْุฏُ ูِูŠ ู…َุง ู‚َุจْู„َู‡ُู…َุง، ูˆَุงู„ุชَّุฎَู„ُّูُ ุจِุฑُูƒْู†ٍ ุฃَู†ْ ูŠُุชِู…َّ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ُ ุงู„ุฑُّูƒْู†َ ุงู„َّุฐِูŠ ุณَุจَู‚َ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ูˆَุงู„ْู…َุฃْู…ُูˆู…ُ ุจَุนْุฏُ ูِูŠ ู…َุง ู‚َุจْู„َู‡ُ.

“Tertinggal dua rukun adalah ketika imam telah menyelesaikan dua rukun, sedangkan makmum masih berada pada rukun sebelum keduanya. Sedangkan tertinggal satu rukun adalah ketika imam telah menyelesaikan rukun yang telah ia mulai, sedangkan makmum masih berada pada rukun sebelumnya.” (Al-Majmu'). 

Bagaimana yang Seharusnya Dilakukan Makmum dalam Mengikuti Imam?

Dijelaskan:

ูَุงู„ุณُّู†َّุฉُ ู„ِู„ْู…َุฃْู…ُูˆู…ِ ุฃَู†ْ ูŠَุชَุฃَุฎَّุฑَ ุงุจْุชِุฏَุงุกُ ูِุนْู„ِู‡ِ ุนَู†ْ ุงุจْุชِุฏَุงุกِ ูِุนْู„ِ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ِ، ูˆَูŠَุชَู‚َุฏَّู…َ ุนَู„َู‰ ูَุฑَุงุบِู‡ِ ู…ِู†ْู‡ُ، ูˆَุงู„ْุฃَูƒْู…َู„ُ ู…ِู†ْ ู‡َุฐَุง ุฃَู†ْ ูŠَุชَุฃَุฎَّุฑَ ุงุจْุชِุฏَุงุกُ ูِุนْู„ِ ุงู„ْู…َุฃْู…ُูˆู…ِ ุนَู†ْ ุฌَู…ِูŠุนِ ุญَุฑَูƒَุฉِ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ِ، ูˆَู„َุง ูŠَุดْุฑَุนَ ุญَุชَّู‰ ูŠَุตِู„َ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ُ ู„ِุญَู‚ِูŠู‚َุฉِ ุงู„ْู…ُู†ْุชَู‚َู„ِ ุฅِู„َูŠْู‡ِ، ูَู„َุง ูŠَู‡ْูˆِูŠ ู„ِู„ุฑُّูƒُูˆุนِ ูˆَุงู„ุณُّุฌُูˆุฏِ ุญَุชَّู‰ ูŠَุณْุชَูˆِูŠَ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ُ ุฑَุงูƒِุนًุง، ุฃَูˆْ ุชَุตِู„َ ุฌَุจْู‡َุชُู‡ُ ุฅِู„َู‰ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ.

“Yang sunnah bagi makmum adalah memulai gerakannya setelah imam memulai gerakannya dan sebelum imam selesai darinya. Yang lebih sempurna, makmum memulai gerakannya setelah seluruh gerakan imam selesai, dan ia tidak mulai berpindah sampai imam benar-benar berada pada rukun yang dituju. Karena itu, makmum tidak turun untuk rukuk dan sujud sampai imam telah sempurna dalam rukuk atau dahinya telah sampai ke tempat sujud.” (I'anatut Thalibin). 

Kesimpulan:

- Memperbanyak doa ketika sujud memang sunnah, berdasarkan hadits Nabi ๏ทบ.

- Kesunnahan tersebut juga berlaku bagi makmum, selama tidak menyebabkan dirinya menyelisihi imam.

- Imam Syafi‘i memberi batas tegas seperti disebutkan sebelumnya.

- Karena itu, makmum boleh memperbanyak doa selama imam masih sujud, tetapi ketika imam sudah mengangkat kepala, ia seharusnya mengikuti imam.

- Ulama Syafi‘iyyah secara khusus menyatakan bahwa memperlama sujud setelah imam mengangkat kepala bukanlah sesuatu yang disunahkan.

- Dalam tasyahud ada 3 rukun. Pertama, rukun fi‘li berupa duduk tasyahud. Kedua, rukun qauli (rukun berupa ucapan), yaitu bacaan tasyahud akhir dan salam. 

- Jika prakteknya makmum masih berada dalam sujud terakhir, sementara imam sudah duduk tasyahhud dan belum salam, maka makmum belum tertinggal satupun rukun fi‘li, karena imam belum menyelesaikan duduk tasyahudnya. 

- Jika imam sudah salam sementara makmum masih dalam sujud, maka makmum telah tertinggal satu rukun fi‘li, yaitu duduk tasyahhud.

- Dalam madzhab Syafi‘i, tertinggal satu rukun tersebut menurut pendapat yang lebih sahih hukumnya makruh dan tidak membatalkan shalat. Dan ada pendapat lain yang menyatakan bahwa shalatnya batal karena terdapat penyelisihan terhadap imam tanpa uzur. 

- Namun, terlepas dari perbedaan tersebut, memperlama sujud setelah imam bangkit bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Makmum seharusnya mengikuti imam dan tidak memperpanjang sujud hanya untuk memperbanyak doa.

Wallahu ta'ala a'lam bis shawab.

Untuk tanya jawab was-was silahkan hubungi via: 

https://wa.me/6288225445768

Tersedia juga buku fikih was-was.

Sumber FB Ustadz : M Syihabuddin Dimyathi

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Makmum Memperpanjang Sujud Terakhir Sampai Imam Hampir Salam". Semoga Allah ๏ทป senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.
#hukum #shalat
Lebih lamaTerbaru