
ٍDulu saya pernah menulis tentang perbedaan antara akidah Ahlussunnah wal Jamaah dengan akidahnya Hizbut Tahrir yang didirikan oleh Taqiyuddin an-Nabhani. Salah satunya tentang Quwwah muda'ah atau kemampuan setiap benda untuk menciptakan efek tertentu.
Menurut Aswaja, tidak ada selain Allah yang dapat menciptakan efek apa pun, baik itu efek kenyang, luka, sembuh, sakit, mati dan seterusnya. Benda apa pun adalah ciptaan Allah, dan efek benda juga ciptaan Allah. Sedangkan menurut aliran Qadariyah, Allah menciptakan kemampuan khusus dalam setiap benda untuk fungsi tertentu yang dengannya benda itu sendiri menciptakan efeknya sendiri, jadi bukan dari Allah secara langsung. Aliran Qadariah menyebut ini sebagai quwwah muda'ah alias kekuatan pinjaman. Konsep ini sesat sebab meniscayakan adanya ruang di mana ada pencipta selain Allah.
Kausalitas dalam Aswaja bukan Allah menciptakan benda beserta kemampuan khusus dalam benda itu lalu kemampuan khusus itu mencipta efek, seperti api dianggap mencipta pembakaran. Yang benar, kausalitas itu adalah istilah untuk penciptaan benda oleh Allah beserta penciptaan efek tertentu oleh Allah juga yang dengan kehendaknya keduanya selalu terjadi berbarengan. Jadi, Allah menciptakan api sekaligus menciptakan pembakaran ketika api menyentuh kertas. Semua dari penciptaan Allah secara langsung.
Bagi Nabhan, konsep quwwah muda'ah ini diistilahkan dengan khasiyyah yang sudah diserap dalam bahasa indonesia sebagai kata "khasiat". Maknanya sama persis, konsepnya juga sama persis. Dari situ kemudian dia mengkritik keras Asy'ariyah yang menurutnya meniadakan khasiat benda. Dengan begitu maka saya jelaskan bahwa dalam hal ini Taqiyuddin an-Nabhani mengambil konsep qadariah untuk diajarkan pada Hizbut Tahrirnya.
Lalu beberapa orang HT tidak terima. Baginya, saya tidak paham buku-buku HT dan mencoba menjelaskan bahwa konsep quwwah muda'ah milik orang-orang qadariah berbeda dengan konsep khashiyyah milik HT. Padahal makin mereka terangkan justru makin gamblang bahwa itu hanya beda istilah saja. Nah, kebetulan di buku Syarah Aqidah Wustha sebagaimana dalam SS, Imam Sanusi memakai istilah khashiyyah sebagai ganti dari istilah quwwah muda'ah. Nah, jadi jelas bahwa khasiyyah ini adalah konsep di luar Aswaja, lebih tepatnya adalah konsep qadariah, salah satu aliran sesat yang menolak keberadaan takdir sebab bagi mereka segala efek adalah hasil usaha manusia dengan memanfaatkan khasiat-khasiat dalam diri manusia dan benda-benda ciptaan Allah.
Sumber Facebook Ustadz : Abdul Wahab Ahmad