Rukun Iman dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Iman merupakan dasar utama dalam ajaran Islam; ia menjadi landasan batin yang menjadi sebab seorang mukmin beribadah dan beramal dengan penuh keyakinan. Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, iman dipahami sebagai pembenaran dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan manifestasi nyata dalam sikap serta perilaku. Keyakinan tersebut harus didasari oleh dalil yang kuat sehingga tidak terombang-ambing oleh pemahaman yang lemah atau kabur. 1
Rukun iman terdiri dari enam pokok keimanan yang wajib diyakini oleh setiap muslim: (1) iman kepada Allah, (2) iman kepada malaikat-Nya, (3) iman kepada kitab-kitab Allah, (4) iman kepada rasul-rasul-Nya, (5) iman kepada hari akhir, dan (6) iman kepada qadha dan qadar Allah. Keenam rukun ini menjadi kerangka utama keimanan sejati bagi setiap hamba yang beriman. 2
Pengertian Iman
Menurut sejumlah ulama klasik, iman secara bahasa adalah “membenarkan dengan hati”, sedangkan secara syariat adalah meyakini dengan hati dan diikuti oleh pengakuan dengan lisan. Definisi ini menunjukkan bahwa iman bukan sekadar ucapan formal, tetapi suatu keyakinan yang benar-benar hidup dan melekat di dalam diri seorang muslim. 3
Para ulama berbeda sedikit dalam menyusun unsur-unsur definisi iman. Sebagian menyatakan bahwa amal perbuatan bukan termasuk definisi iman, melainkan merupakan konsekuensi atau hasil dari iman itu sendiri. Namun, semua sepakat bahwa iman harus dibangun atas keyakinan yang pasti, bukan sekadar perasaan atau tradisi belaka. 4
Iman kepada Allah
Rukun pertama iman adalah percaya kepada Allah ﷻ — Tuhan Yang Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan Maha Pencipta segala sesuatu. Iman kepada Allah harus langsung tanpa perantara, tanpa sekutu, dan tidak boleh bercampur dengan keyakinan yang merendahkan kemahakuasaan-Nya. 5
Mengenal Allah secara benar adalah kewajiban setiap muslim. Pengetahuan ini disebut makrifatullah, yakni mengenal Allah dengan iman yang yakin berdasarkan wahyu Al-Qur’an dan penjelasan para ulama. Tanpa makrifatullah, keimanan seseorang akan rentan terhadap keraguan dan salah paham tentang Zat dan sifat-sifat Allah. 6
Keimanan kepada Allah menjadi fondasi untuk seluruh aspek keimanan yang lain. Ia menjadi motivasi bagi seorang muslim untuk menyembah Allah semata dan mengabdikan hidupnya kepada-Nya dengan cara yang benar dan penuh tawadu’ (rendah hati). 7
Iman kepada Malaikat
Iman kepada malaikat berarti meyakini adanya makhluk yang diciptakan Allah dari cahaya untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya. Malaikat bukan sekadar simbol, tetapi makhluk nyata yang taat kepada Allah tanpa pernah lalai. Iman ini membentuk kesadaran bahwa setiap tindakan manusia diperhatikan dan dicatat oleh makhluk yang khusus diamanahkan oleh Allah. 8
Malaikat berperan sebagai saksi dan pencatat amal manusia, serta sebagai pembawa wahyu, pelaksana ketentuan-ketentuan Allah, serta sebagai pembawa sebagian rizki atau ketentuan lainnya sesuai dengan kehendak Allah. Keyakinan kepada malaikat menambah rasa tanggung jawab seorang muslim terhadap amal ibadahnya. 9
Iman kepada Kitab-Kitab Allah
Rukun iman ketiga adalah percaya kepada kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para nabi dan rasul-Nya sebagai petunjuk bagi manusia. Kitab-kitab tersebut mengandung hukum, huruf, dan petunjuk kehidupan. 10
Dalam konteks akidah Islam, kitab-kitab yang wajib diimani meliputi Zabur, Taurat, Injil, dan Al-Qur’an, di mana Al-Qur’an menjadi kitab terakhir yang menghapus sebagian isi kitab sebelumnya yang telah berubah bentuknya dari segi hukum dan syariat. Keimanan kepada kitab suci menegaskan bahwa sumber ajaran Islam bersumber dari wahyu yang diwahyukan Allah. 11
Iman kepada Rasul-Rasul Allah
Keimanan kepada rasul-rasul Allah berarti meyakini bahwa Allah mengutus utusan-utusan Nya kepada umat manusia untuk menyampaikan wahyu serta menegakkan petunjuk dan hukum-Nya. Para rasul memiliki sifat wajib seperti sidq (jujur), amanah (dapat dipercaya), dan tabligh (menyampaikan wahyu tanpa menyembunyikannya). 12
Iman kepada rasul juga berarti percaya bahwa risalah yang dibawa oleh para nabi itu benar adanya, saling menguatkan, dan puncaknya adalah Nabi Muhammad ﷺ yang membawa penutup ajaran Islam kepada seluruh umat manusia. 13
Iman kepada Hari Akhir
Iman kepada hari akhir merupakan rukun iman berikutnya, yakni yakin akan datangnya hari kebangkitan di mana seluruh makhluk akan diadili sesuai amalnya. Hari akhir merupakan saat pemisahan antara yang baik dan buruk, dimana setiap manusia akan mendapat balasan setimpal. 14
Al-Qur’an secara tegas menjelaskan tentang kebangkitan, hisab, dan balasan di akhirat untuk menguatkan iman manusia agar tidak berlepas diri dari tanggung jawab moral terhadap kehidupan di dunia. 15
Iman kepada Qadha dan Qadar
Rukun iman terakhir dalam struktur aqidah adalah iman kepada qadha dan qadar Allah, yakni meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik yang baik maupun yang buruk, berada dalam pengetahuan dan ketentuan Allah yang azali. 16
Pemahaman ini tidak bermaksud menjadikan manusia pasif, tetapi sebaliknya ia mendorong manusia untuk tetap berikhtiar sambil berserah diri kepada ketentuan Allah yang sudah ditetapkan sejak azali. Tradisi Aswaja menempatkan pemahaman qadha-qadar sebagai bagian integral dari iman yang menumbuhkan keseimbangan antara tawakal dan usaha. 17
Keimanan yang Dinamis
Keimanan kepada keenam rukun iman di atas bukanlah sekadar aspek statis, melainkan suatu hal yang terus berkembang sepanjang kehidupan seseorang. Iman dapat bertambah dengan sebab ketaatan kepada Allah dan amal saleh, sekaligus dapat berkurang jika seseorang lalai dari perintah-Nya atau terseret kepada kemaksiatan. Hal ini menunjukkan bahwa iman bukan sekadar status identitas, tetapi realitas yang hidup dalam diri seorang mukmin. 18
Penutup
Dengan memahami keenam rukun iman secara utuh dan berdasarkan dalil, seorang muslim memiliki fondasi yang kuat dalam akidahnya. Pengenalan yang benar terhadap iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan qadla-qadar membentuk pribadi yang seimbang, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia di dunia sekaligus mengharap balasan di akhirat. 19
Bagian dari: Pilar Aqidah & Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah